Hilangnya Budi Pekerti

Konflik dalam satu tubuh.
Seorang muslim dengan muslim lainnya bagaikan satu tubuh. Saat seorang muslim sakit, saudaranya pun ikut sakit.
Seperti yang tertulis dalam Al-Qur’anul kariim, Innamal mu’minuuna ikhwah … Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara. Sebagaimana layaknya seorang saudara, senasib sepenanggungan. Saling membantu dan menolong.
Terdapat dalam salah satu kumpulan hadits arba’in karya Syaikhul Islam Imam Nawawi, Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhiihi maa yuhibbu linafsihi, yang artinya tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Rasa cinta dalam hati setiap muslim ini akan menguatkan persaudaraan sesamanya.

Waktu terus bergulir, godaan zaman semakin kencang menggerogoti persatuan Islam. Sekarang konflik sering terjadi akibat pandangan yang berbeda dalam diri tiap tiap muslim. Banyak golongan-golongan yang muncul ke permukaan di akhir zaman ini. Gesekan tidak dapat dielakkan. Masing-masing memperluas pengaruh dan bertahan dalam pilihannya. Hingga akhirnya berbenturan dengan sesama menjadi hal yang biasa. Usaha untuk meleburnya seperti sebuah lilin yang diterpa angin kencang dari segala arah, ada tapi banyak diterjang. Semua fokus mengkritisi saudaranya. padahal ada pihak lain mengamati dari jauh yang menjadi lawan bersama kita semua.

Tetapi orang berilmu akan memiliki sikap yang lebih baik dalam menghadapi perbedaan itu. Menjunjung tinggi budi pekerti, menjaga sikap, tetap membersamai walaupun berbeda. Tetap teguh pendirian, namun juga membaur dan memberi teladan. Mengingatkan dengan cara yang lembut tidak dengan kekerasan. Budi pekerti yang baik dibutuhkan dimana-mana. Ia akan menjadi magnet yang tak dapat ditolak oleh sekitarnya. Keluhuran budi, selaras dengan ketinggian ilmu.
Menyikapi kondisi akhir zaman seperti ini, selayaknya tiap-tiap muslim berbenah diri dan menjaga sikapnya sesama muslim. Menguatkan persaudaraan dan tetap teguh dalam pendiriannya. Hilangkan rasa etnosentris, menganggap kelompoknya paling benar hingga tak mau mendengar sama sekali kelompok lain. Selayaknya seorang muslim dapat bijak menyikapi perbedaan. Melihat suatu masalah dari beragam sudut pandang. Islam memiliki acuan, yang Rasulullah S.A.W telah wariskan. Al-Qur’an sebanyak 30 Juz yang banyak orang telah menghapalnya, ribuan hadits dengan banyak riwayat, juga putusan para ‘alim ‘ulama. Teladan luar biasa dari para sahabat di zaman Rasul juga merupakan hal yang harus dijadikan contoh. Inilah mengapa peran Belajar/Mengaji (istilah untuk belajar agama) menjadi penting sebagai sarana menimba ilmu, memperluas pengetahuan agama Islam. Orang yang berlimu akan lebih bijak menyikapi setiap masalah karena ia tahu ilmunya, tahu sejarahnya, tahu alasannya.

Oleh sebab itu, kebanyakan masyarakat awam seharusnya pandai-pandailah menjaga sikap. Jangan mudah menghakimi jika belum mnguasai ilmunya. Itulah sebabnya pentingnya berguru dari sumber yang jelas. Sehingga akan lebih terjaga dari konflik yang berpotensi timbul. Jika menemukan keraguan, ingatlah sebuah hadits yang termasuk dalam kumpulan hadits arba’in juga Da’ ma yaribuka ilaa maa laa yaribuka,  tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Jika ada permasalahan dalam sesama muslim terkait hal furu’ (percabangan) dan belum menemukan jawaban karena belum mengetahui ilmunya, maka janganlah terlalu memaksakannya. Sementara larangan Allah yang sudah jelas dilanggar banyak orang di sekitar kita, luput dari pengawasan kita. cara mengingatkan kita kepada sesama muslim tentu beda caranya dengan cara berdakwah kepada yang kafir (sikap terhadap kafir juga berbeda-beda, apakah ia kafir harbi, zimmi dll).

Semoga Allah selalu merahmati kita, menjaga Ghirah kita terhadap Islam dan meneguhkan langkah kaki dalam kebaikan.

terakhir mengutip Firman Allah dalam surat Al Fath ayat 29

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad adalah utusan Allah, orang orang yang sesamanya bersikap keras terhadap orang kafir namun lembut terhadap sesamanya” …
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s