berawal dari hati

mengenai hati yang lembut.. yang tidak semua orang dengan baik merasai hati..

hati seringkali menunjukkan kita pada hal yang benar. rasa-rasa yang janggal dan resah yang menghampiri diri, diawali dari hati.

seringkali hati menuntun kita pada hal yang benar. menunjukan dan menyadarkan kita akan hal yang salah. tetapi, seringkali pula kita hiraukan.

kita adalah manusia yang penuh sekali dosa, berlumuran. mungkin jika ia berwarna hitam, maka luput sudahlah diri kita dari penglihatan, karena tertutup warna hitam.

walaupun kita sering melakukan kesalahan, menumpuk dosa, tapi tidak jarang pula setelahnya kita rasakan resah dalam hati. merasakan penyesalan yang amat sangat. Sehingga rasa sesal itu menuntun lisan kita untuk beristighfar, menundukkan diri kita bahkan mebuat panas mata kita hingga meneteskan air mata. alhamdulillah, kita masih merasakan penyesalan.

setelah diri merasa menyesal. maka selanjutnya timbul keinginan untuk memperbaiki. ingin melakukan hal untuk menebus kesalahan. biasanya terpikirkan untuk melakukan suatu tindakan pembenahan. terbayang dalam pikiran, “aku akan melakukan ini lalu itu, setelahnya ini lagi lalu itu”. tetapi tindakan tak semudah rasa sesal.

sebuah tindakan membutuhkan energi yang lebih besar dari sekedar rasa sesal dan sedih. energi yang mampu menimbulkan keberanian, keyakinan, serta kesungguhan utnuk melakukan suatu tindakan itu. karena sebuah tindakan akan memiliki dampak yang besar. Dampak dari orang -orang di sekeliling kita yang merasakan tindakan kita. dampak yang positif jika kita melakukan kebaikan dan dampak negatif bagi kita dari orang-orang yang membenci kebaikan.

energi yang dibutuhkan oleh kita haruslah bersumber dari energi yang tidak pernah padam, tidak akan habis dan tidak akan hilang. energi itu bisa kita dapatkan dari pemahaman kita akan ilmu serta keimanan kita kepada Allah, serta kecintaan kita pada kebaikan dan pelaku kebaikan yang terdahulu. jika kita paham suatu ilmu, maka kita tahu akibat-akibat yang akan ditimbulkannya. sehingga dorongan bagi kita untuk melakukan tindakan baik itu akan lebih kuat. karena kita tau alasan untuk bergerak. jika kita beriman kepada Allah dengan keimanan yang teguh, maka tak ada tempat bersandar yang lebih baik dibanding Allah. kita dapat memohon kepada Allah untuk dikuatkan dalam melakukan tindakan kebaikan. sedangkan kecintaan kita pada kebaikan, akan membuat kita selalu condong kepadanya, walaupun terkadang lisan tak bisa menjelaskan mengapa harus seperti itu.

walaupun dari semua rasa sesal dan keinginan untuk berubah tidak sepenuhnya diteruskan dengan tindakan, janganlah bunuh rasa itu. jangan terus mengutuk diri karena hanya bisa merasakan tapi belum bisa bertindak. rasa tersebut merupakan awalan dari tindakan. tanpa adanya kesadaran serta rasa sesal, maka seseorang itu tidaklah sadar bahwa apa yang dilakukan adalah kesalahan. mohonlah kepada Allah petunjuk dan kekuatan, sehingga selanjutnya kita tidak hanya merasakan tapi juga dapat melakukan tindakan perbaikan.

“Fafirru ilallah” maka bersegeralah kembali kepada Allah. bukankah diawali lebih dulu dengan kesadaran ?

Maka jagalah hati.. beri perhatian lebih pada hati. Jangan abaikan ia. pelihara hati dengan dzikrullah. Alaa bi dzikrillaahi tathmainnul quluub.

wallahu a’lam …

ihdinash shirootol mustaqiim

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s