saat harusnya pulang

Jadi.. ceritanya mau ngasih hadiah buat adik ku nun jauh disana. Karena ku sedang diperantauan yang katanya kota hujan.

Langsunglah aku terpikirkan dua hal. Haha mengirim sketsa wajah atau boneka muslimah yang lagi hits di kampusku. Hmmm akhirnya karena waktu dan finansial aku pilih pilihan yang pertama. Yaitu sketsa wajahnya. Pertama karena lebih terjangkau, pemesanan lebih cepat, dan pesennya ke temen sendiri juga.hehe

Daaan jadilaah si hadiah itu.. kemudian aku mencari pembungkus yang bagus agar terlihat lebih menarik. Tentunya aku melibatkan pigura untuk membingkai sketsanya. Kemudiaann tibalah saatnya untuk mengirimkan si hadiah itu. Aku pun berjalan menyusuri jalan menuju kios jasa pengiriman. Teriknya panas tak menjadi halangan, siangnya mau UAS pun buka jadi penghalang langkahku untuk mengirimkan hadiah ini.

Sesampainya disana, begitu aku mengeluarkan paket yang akan kukirimkan dari plastik pembungkus yang kubawa dari kosan… si mbak penjaga nya bilang

“itu pigura ya mba?”

“iya”, jawabku.

Sambil tersenyum yang diusahakan dan gelengan kepala yang sangat tipis, kemudian ia berkata “harus di kotak kayu mba, tapi itu juga rentan pecah mba, sedikit-sedikit retak”

“oh, hmm ga ada cara lain yang lebih aman?” kataku.

Sambil tersenyum menegarkan, “paling amannya pakai kotak kayu mba, tapi pengalaman sebelumnya juga itu sering retak. Jadi ga menjamin mba”

Huft.. si mba nya sudah bersikukuh menyampaikan kebenaran. Tapi aku tetap berusaha siapa tahu ada usaha terbaik lain, mungkin bisa khusus untuk paket ku ini. (berharap)

“ditaruhnya di bagian paling atas gitu mba. Gimana?”

“iya mba, dari awalnya juga kami tata rapih sesuai jenis barang, tapi kalau sudah di jalannya kita juga gatau mba.” jawab si mba nya

😦 huhu ya sudah lah.. aku ga mungkin membiarkan ini retak hmm. Akhirnya aku pun menyerah.

“ya sudah mba. Terimakasih ya mba”

Akupun melangkah gontai keluar kios tersebut. Hmm apa tandanya ini??? Ini artinya aku harus pulangg 😥 aaaa huhuuu iyaa aku juga sebenarnya ingin pulang tapi melihat apa yang harus aku segera selesaikan tentang tugas Akhir.. akhh rasanya berat juga kalau pulang. Walaupun pulang ke rumah, juga sepertinya hari-hariku tidak akan tenang jika salah satu tahap Tugas Akhir ini belum beres. Hmm

Laa haula wa laa quwwata illa billah….

Ya Allah mungkin ini caramu agar aku segera mneyelesaikan tahap ini dan tetap bisa segera pulang ke rumah. Masyaallah..

Permata Masa Kini

entah mungkin banyak yang berpikir bahwa ini berlebihan. tapi aku rasa tidak.

bagaimana mungkin ini semua berlebihan? sementara aku dalam hidupku yang belum lama ini, telah beruntung sekali Allah mengizinkan aku untuk mengenalnya. bahkan menghadiri majelis-majelisnya. hmm mungkin ada banyak noda yang dilihat oleh sebagian orang. tapi  bukankah noda itu akan selalu ada? tinggal hati kita saja yang bagaimana menanggapinya. bagaimana dapat melihat secara menyeuruh, mencoba memaklumi kesalahan untuk dapat melihat cahaya terang yang dia pancarlkan. ya Allah ya rabbi.. betapa sayangnya Engkau kepada hamba-Mu yang penuh lumpur dosa ini… mengizinkan alur hidupku tergaris hingga bertemu di titik dimana ia pun berada. walaupun aku tau sebentar lagi mungkin dia akan pergi, memenuhi dahaga cintanya akan hal yang mulia 🙂 tidak mengapa itu bahkan akan menjadi suatu kebanggaan bagiku. aku pernah berkomunikasi, pernah bertatap langung dan pernah mendengar tutur ilmu dari lisannya, yaitu orang yang nantinya akan pergi ke tempat para pencari ilmu yang mulia. duhai Allah.. betapa lebih banyak seharusnya syukur yang kupanjatkan atas nikmatmu yang luarbiasa ini padaku.. mengizinkan mata, dan telinga ini untuk menginderai langsung seseorang yang luarbiasa.

ya Allah.. kabulkanlah doanya.. penuhilah keinginannya yang mulia.. panjangkanlah umurnya… dan izinkanlah agar orang seperti dia, ada penerusnya di sini.. di tempat ini. di tempat yang aku sangka sulit untuk mereka mengeksiskan diri. namun waktu memberi jawabannya. kini semakin hari semakin besar.. semakin meluas.. dan semakin dikenal.. semoga esensinya tiada hilang walau ketenaran sudah menunjukkan tanda-tandanya untuk singgah. bersiaplah wahai saudaraku.

dari serorang hamba yang penuh lumpur dosa. merasa sangat bersyukur akan nikmat yang telah Allah beri untuk mengenalnya. mengambil banyak pelajaran darinya. merasakan juga semangat yang ia bawa. semoga Allah menjadikanmu jauh lebih baik dari sekarang, mengistiqomahkanmu dalam kebaikan dan menjadikanmu salah satu sumber ilmu yang memuaskan para pencari ilmu yang dahaganya tak mudah dihilangkan hanya dengan tutur kata yang biasa…

wahai permata.. terimakasih

Duhai Allah… segala puji bagimu tiada henti

IPB Bersholawat

29 Mei 2016

Alhamdulillah .. IPB bersholawat. Baru kali ini aku merasakan yang seperti ini di sini, di kampus, tanah rantau. Menemukan apa yang biasanya kutemukan dulu di rumah, akhirnya kutemukan juga di tanah rantau ini. Mulai pukul 7 pagi, saat beranjak mendekati lokasi. Yaitu Gedung Grha Widya Wisuda (GWW), gedung yang paling bersejarah di IPB karena disanalah tempat awal dan akhirnya seorang mahasiswa secara resmi masuk dan keluar dari kampus ini. Pemandangan yang sejuk di mata dan juga mendamaikan hati telah menghiasi. Orang-orang berpeci dan bersarung hilir mudik. Ditambah lagi kemeja koko putih. Duh, indahnya, tentramnya. Wajah-wajah ramah khas masyarakat desa yang memang adatnya ramah membuat hati semakin tentram. Ya Allah.. akhirnya inilah saatnya.

Telah disampaikan juga oleh Habib Mahdi bin Hamzah Assegaf (yang memimpin sholawat pada acara ini, dari MT Syababul Kheir, Bogor) bahwa inilah saatnya kita bangkit, kaum ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan kebiasaan-kebiasaan positifnya. Tak perlu malu menunjukkan bahwa inilah saya, yang suka sholawatan, yang suka tahlilan, suka ziarah kubur. Bahwa Indonesia dulu juga merdeka didominasi oleh gerakan para santrinya yang bersahaja. Istiqomahkan mengamalkan sholawat, sebagai bukti cinta Rasulullah s.a.w. cinta kepada rasulullah S.A.W mencerminkan keimanan kita. Maka tidak alasan bagi kita untuk bersembunyi. Tidak alasan bagi kita untuk membiarkan diri kita terus diam dan hanya menyimpan kebiasaan-kebiasan positif yang indah ini hanya untuk kalangan kita sendiri. Saatnya kita menyentuh ranah kampus kita tercinta. Sentuh dengan lembut, tunjukkan bahwa yang namanya sholawatan tidak hanya ada di kampung masing-masing tapi juga ada di tanah rantau sini, bahwa ada juga sholawatan di kampus kita tercinta ini. Saatnya kita tunjukkan pada yang lain bahwa ada juga tradisi-tradisi seperti ini di kalangan mahasiswa. Bagi yang merindu, bisa ikut bergabung, terbuka untuk semua.

Lantunan sholawat bergema di penjuru gedung GWW. Menjadi bukti bahwa kami semua yang berkumpul disini mengharapkan ridho Allah, mengharapkan syafa’at dari Rasulullah.

Tidak ada waktu yang terbuang percuma dalam acara ini insyaallah. Memang acara resmi dimulai sekitar pukul 9. Namun aku merasa, sejak jam 7 acara ini sudah mulai. Karena saat pertama hadir sudah diperdengarkan lantunan sholawat. Mengetuk hati dan mendorong lisan agar bergerak mengucap sholawat juga. Tak berselang lama sekitar pukul 07.30, disambut langsung oleh tim hadrah KMNU IPB. Ini menurut saya adalah penyambutan langsung bagi para pendatang, Sambutan spesial bagi mereka yang datang lebih awal. Karena hanya yang datang lebih awal yang dapat menikmatinya, setelah itu giliran tim hadrah dari habib nya 😀 .

Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Waktu menunggu para pengisi acara hadir, diisi dengan sholawat. Sungguh acara yang penuh berkah. Insyaallah.

Terima kasih banyak KMNU IPB telah menyelenggarakan acara ini. semoga amalan kalian dibalas dengan sebaik-baik balasan oleh Allah. karena ada kalian yang mau bergerak, terlaksanalah acara ini. semua diawali dengan kemauan. bagaimana bisa mau bergerak jika tidak ada rasa suka, bahkan lebih dari itu kalian punya cinta. cinta yang besar kepada Rasulullah S..A.W hingga bisa mendorong kalian bergerak untuk mewujudkan ini semua.

 

berawal dari hati

mengenai hati yang lembut.. yang tidak semua orang dengan baik merasai hati..

hati seringkali menunjukkan kita pada hal yang benar. rasa-rasa yang janggal dan resah yang menghampiri diri, diawali dari hati.

seringkali hati menuntun kita pada hal yang benar. menunjukan dan menyadarkan kita akan hal yang salah. tetapi, seringkali pula kita hiraukan.

kita adalah manusia yang penuh sekali dosa, berlumuran. mungkin jika ia berwarna hitam, maka luput sudahlah diri kita dari penglihatan, karena tertutup warna hitam.

walaupun kita sering melakukan kesalahan, menumpuk dosa, tapi tidak jarang pula setelahnya kita rasakan resah dalam hati. merasakan penyesalan yang amat sangat. Sehingga rasa sesal itu menuntun lisan kita untuk beristighfar, menundukkan diri kita bahkan mebuat panas mata kita hingga meneteskan air mata. alhamdulillah, kita masih merasakan penyesalan.

setelah diri merasa menyesal. maka selanjutnya timbul keinginan untuk memperbaiki. ingin melakukan hal untuk menebus kesalahan. biasanya terpikirkan untuk melakukan suatu tindakan pembenahan. terbayang dalam pikiran, “aku akan melakukan ini lalu itu, setelahnya ini lagi lalu itu”. tetapi tindakan tak semudah rasa sesal.

sebuah tindakan membutuhkan energi yang lebih besar dari sekedar rasa sesal dan sedih. energi yang mampu menimbulkan keberanian, keyakinan, serta kesungguhan utnuk melakukan suatu tindakan itu. karena sebuah tindakan akan memiliki dampak yang besar. Dampak dari orang -orang di sekeliling kita yang merasakan tindakan kita. dampak yang positif jika kita melakukan kebaikan dan dampak negatif bagi kita dari orang-orang yang membenci kebaikan.

energi yang dibutuhkan oleh kita haruslah bersumber dari energi yang tidak pernah padam, tidak akan habis dan tidak akan hilang. energi itu bisa kita dapatkan dari pemahaman kita akan ilmu serta keimanan kita kepada Allah, serta kecintaan kita pada kebaikan dan pelaku kebaikan yang terdahulu. jika kita paham suatu ilmu, maka kita tahu akibat-akibat yang akan ditimbulkannya. sehingga dorongan bagi kita untuk melakukan tindakan baik itu akan lebih kuat. karena kita tau alasan untuk bergerak. jika kita beriman kepada Allah dengan keimanan yang teguh, maka tak ada tempat bersandar yang lebih baik dibanding Allah. kita dapat memohon kepada Allah untuk dikuatkan dalam melakukan tindakan kebaikan. sedangkan kecintaan kita pada kebaikan, akan membuat kita selalu condong kepadanya, walaupun terkadang lisan tak bisa menjelaskan mengapa harus seperti itu.

walaupun dari semua rasa sesal dan keinginan untuk berubah tidak sepenuhnya diteruskan dengan tindakan, janganlah bunuh rasa itu. jangan terus mengutuk diri karena hanya bisa merasakan tapi belum bisa bertindak. rasa tersebut merupakan awalan dari tindakan. tanpa adanya kesadaran serta rasa sesal, maka seseorang itu tidaklah sadar bahwa apa yang dilakukan adalah kesalahan. mohonlah kepada Allah petunjuk dan kekuatan, sehingga selanjutnya kita tidak hanya merasakan tapi juga dapat melakukan tindakan perbaikan.

“Fafirru ilallah” maka bersegeralah kembali kepada Allah. bukankah diawali lebih dulu dengan kesadaran ?

Maka jagalah hati.. beri perhatian lebih pada hati. Jangan abaikan ia. pelihara hati dengan dzikrullah. Alaa bi dzikrillaahi tathmainnul quluub.

wallahu a’lam …

ihdinash shirootol mustaqiim

 

 

Hilangnya Budi Pekerti

Konflik dalam satu tubuh.
Seorang muslim dengan muslim lainnya bagaikan satu tubuh. Saat seorang muslim sakit, saudaranya pun ikut sakit.
Seperti yang tertulis dalam Al-Qur’anul kariim, Innamal mu’minuuna ikhwah … Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara. Sebagaimana layaknya seorang saudara, senasib sepenanggungan. Saling membantu dan menolong.
Terdapat dalam salah satu kumpulan hadits arba’in karya Syaikhul Islam Imam Nawawi, Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhiihi maa yuhibbu linafsihi, yang artinya tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Rasa cinta dalam hati setiap muslim ini akan menguatkan persaudaraan sesamanya.

Waktu terus bergulir, godaan zaman semakin kencang menggerogoti persatuan Islam. Sekarang konflik sering terjadi akibat pandangan yang berbeda dalam diri tiap tiap muslim. Banyak golongan-golongan yang muncul ke permukaan di akhir zaman ini. Gesekan tidak dapat dielakkan. Masing-masing memperluas pengaruh dan bertahan dalam pilihannya. Hingga akhirnya berbenturan dengan sesama menjadi hal yang biasa. Usaha untuk meleburnya seperti sebuah lilin yang diterpa angin kencang dari segala arah, ada tapi banyak diterjang. Semua fokus mengkritisi saudaranya. padahal ada pihak lain mengamati dari jauh yang menjadi lawan bersama kita semua.

Tetapi orang berilmu akan memiliki sikap yang lebih baik dalam menghadapi perbedaan itu. Menjunjung tinggi budi pekerti, menjaga sikap, tetap membersamai walaupun berbeda. Tetap teguh pendirian, namun juga membaur dan memberi teladan. Mengingatkan dengan cara yang lembut tidak dengan kekerasan. Budi pekerti yang baik dibutuhkan dimana-mana. Ia akan menjadi magnet yang tak dapat ditolak oleh sekitarnya. Keluhuran budi, selaras dengan ketinggian ilmu.
Menyikapi kondisi akhir zaman seperti ini, selayaknya tiap-tiap muslim berbenah diri dan menjaga sikapnya sesama muslim. Menguatkan persaudaraan dan tetap teguh dalam pendiriannya. Hilangkan rasa etnosentris, menganggap kelompoknya paling benar hingga tak mau mendengar sama sekali kelompok lain. Selayaknya seorang muslim dapat bijak menyikapi perbedaan. Melihat suatu masalah dari beragam sudut pandang. Islam memiliki acuan, yang Rasulullah S.A.W telah wariskan. Al-Qur’an sebanyak 30 Juz yang banyak orang telah menghapalnya, ribuan hadits dengan banyak riwayat, juga putusan para ‘alim ‘ulama. Teladan luar biasa dari para sahabat di zaman Rasul juga merupakan hal yang harus dijadikan contoh. Inilah mengapa peran Belajar/Mengaji (istilah untuk belajar agama) menjadi penting sebagai sarana menimba ilmu, memperluas pengetahuan agama Islam. Orang yang berlimu akan lebih bijak menyikapi setiap masalah karena ia tahu ilmunya, tahu sejarahnya, tahu alasannya.

Oleh sebab itu, kebanyakan masyarakat awam seharusnya pandai-pandailah menjaga sikap. Jangan mudah menghakimi jika belum mnguasai ilmunya. Itulah sebabnya pentingnya berguru dari sumber yang jelas. Sehingga akan lebih terjaga dari konflik yang berpotensi timbul. Jika menemukan keraguan, ingatlah sebuah hadits yang termasuk dalam kumpulan hadits arba’in juga Da’ ma yaribuka ilaa maa laa yaribuka,  tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Jika ada permasalahan dalam sesama muslim terkait hal furu’ (percabangan) dan belum menemukan jawaban karena belum mengetahui ilmunya, maka janganlah terlalu memaksakannya. Sementara larangan Allah yang sudah jelas dilanggar banyak orang di sekitar kita, luput dari pengawasan kita. cara mengingatkan kita kepada sesama muslim tentu beda caranya dengan cara berdakwah kepada yang kafir (sikap terhadap kafir juga berbeda-beda, apakah ia kafir harbi, zimmi dll).

Semoga Allah selalu merahmati kita, menjaga Ghirah kita terhadap Islam dan meneguhkan langkah kaki dalam kebaikan.

terakhir mengutip Firman Allah dalam surat Al Fath ayat 29

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad adalah utusan Allah, orang orang yang sesamanya bersikap keras terhadap orang kafir namun lembut terhadap sesamanya” …

hari yang berat, 1/5 abad

hari ini berat. aku rasa. rasa yang tak seperti biasanya. sebelumnya aku lewati dengan perasaan senang, senang sekali, excited, lalu jadi biasa aja, semakin biasa dan sekarang malah jadi berat kurasa.

hari ini tepat usiaku di dunia mencapai 1/5 abad. banyak teman sekawan bilang “wah baru 2o ya? ” tapi ku rasa sudah 20. apalah aku di dunia ini selama 20 tahun. rasanya makin berat saja ku melangkahkan kaki saat mengingatnya.

apalah ak di umur 20 ini, beberapa target belum tercapai. padahal usia sudah menjadi 1/5 abad. hari ini terasa berat ya allah… berat sekali.

aku malu.

kalau boleh jujur aku tidak suka.

aku tidak suka suasana seperti ini.

hm tapi aku senang. senang karena ada yang mengingatkan dan banyak yang mendoakan. semoga mereka tidak hanya mendoakanku hari ini, tapi juga selanjutnya 🙂 hehe bahkan mungkin sebelumnya mereka selalu mendoakan ku.. terimakasih banyak ya

selamat menjadi 1/5 abad. semoga usia yang tersisa lebih bermanfaat. maka berusahalah untuk itu.

y

Cermin diri

sahabat kita, orang orang yang di mana kita sering berkumpul dengannya adalah cermin diri. adalah mereka yang mengingatkan kita saat kita telah salah, saat di jalur yang berbeda jauh melangkah.

mereka punya cara sendiri menyampaikannya. tapi saat mereka menyampaikannya padamu, mungkin itulah puncaknya dari perasaan mereka. perasaan meerka yang selama ini mereka pendam terus menerus. sat mereka menyampaikan langsung itu juga adalah wujud dari kepedulian mereka. mereka ingin agar diri kita berubah.