harapan mereka, Guru kita

ada banyak orang yang menginginkan kebaikan bagi orang lain. beberapa di antaranya adalah mereka, guru, kyai, dosen.. atau apalah kita biasa menyebutnya. mereka menginginkan kebaikan. tapi untuk selanjutnya akan digunakan kata guru yang sepertinya lebih familiar di telinga kita, juga siswa. alasannya sama.

hari ini aku melihat harapan mereka begitu besar pada sang penimba ilmu di hadapannya. tapi aku juga melihat rasa takut yang masih banyak bersarang dari para siswanya. hmm entah karena faktor apa. banyak sepertinya. mungkin takut salah, lupa-lupa ingat sehingga lebih baik diam, ragu, takut ditanya lebih lanjut, ataupun gengsi, malu. hmm

walaupun sang guru telah berujar bahwa tidak ada yang perlu ditakuti. benar dan salah itu wajar karena memang masih belajar. namun tetap saja kelas menetap dalam kesunyian suara para siswa. sang guru seolah bercakap sendiri. termasuk aku juga di dalamnya, lidah tetap kelu. sepertinya banyak hal yang menghalangi lisan ini untuk berucap.

rasanya sedih jika seperti ini terus padahal harapan mereka tertumpu pada kita. rasanya ingin memberikan hal yang maksimal, ingin menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak salah. apa yang mereka lakukan itu sudah benar untuk terus mengajari kita. ingin menunjukkan bahwa masih ada orang disini wahai guru. engkau tak sendiri. ada kami yang mendengarkan dan memperhatikan.

walaupun ada juga sebagian guru yang benar-benar menciutkan mental siswanya hingga benar-benar kelas seperti di hutan. sunyi. tak berani menanggapi apapun yang sang guru sampaikan. ada banyak sebab, misal saat siswa sudah berani bicara entah itu menanggapi atau bertanya selalu ada sikap sang guru yang membuat siswa itu merasa dipermalukan hingga untuk kesempatan selanjutnya ia enggan bicara lagi. padahal hanya dengan bertanya dan menanggapi sang guru di kelas, cahaya ilmu itu akan datang lebih jelas (setidaknya itulah cara termudah bagi kita untuk mendapat ilmu, karena kita langsung bercakap-cakap dengan yang sudah menguasainya sehingga jawaban terasa lebih pas). hingga sang siswa enggan lagi bertanya, ia merasa takut pertanyaannya itu adalah hal yang konyol, hal yang tidak perlu ditanyakan, hal yang mungkin sudah umum diketahui. dan juga enggan menanggapi karena takut tidak menjawab apa yang diinginkan oleh sang guru.

banyak hal memang. banyak halangan dan rintangan dalam menimba ilmu. (kali ini bicara dalam konteks kesiswaan). seperti yang sudah disebutkan diatas yang kebanyakan bersumber dari diri kita sendiri yang sifatnya bisa kita kendalikan. perasaan perasaan itu adalah hal yang ada pada hati dan pikiran kita, jika kita bisa menutupinya dengan keyakinan bahwa “ilmu” itu lebih penting daripada pandangan orang lain terhadap kita tentu perasaan itu bukan lagi jadi penghalang bagi kita untuk mencariu tahu ilmu lebih jauh. tidak perlu pedulikan pandangan orang lain, percaya diri saja. husnuzhon bahwa sang Guru tak akan mempermalukanmu karena ya dia adalah gurumu. husnuzhon bahwa teman-temanmu tak akan menertawakanmu karena mereka adalah temanmu dna kamu adalah teman mereka. juga husnuzhon bahwa sekecil appaunh perbuatan pasti ada balasannya. siapa tahu pertanyaanmu itu akan membuat pencerahan bagi siswa-siswa lainnya.:)

begitulah. dengan kita berhasil mengalahkan perasaan-perasaan itu. tentu akan lebih mendamaikan mereka para guru dan memupuk harapan mereka juga menyuburkan semnagat mereka untuk lebih giat lagi menimba ilmu untuk diabgikan kembali apda murid-muridnya yang datang silih berganti setiap tahun.

#salamdalamrintikhujanyangturun

#semogamanfaat

hope-21

Ramadhan 1436 H

Marhaban ya Ramadhan… Ahlan wa sahlan ya Ramadhan

ramadhan 1436

alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk bisa memasuki bulan ramadhan tahun ini. Ramadhan ke 19 dalam hidupku..

setiap orang yang memahami, tentunya berharap agar ramadhannya setiap bertambah tahun maka bertambah baik pula kualitasnya.

tapi ramadhan kali ini benar-benar berbeda. ia datang saat aku sedang menghadapi ujian, ya Ujian Akhir Semester. berita kedatangannya seolah kalah dengan isu UAS yang tiap semester ada.

sedih.. persiapan UAS mengalahkan persiapan ramadhan :'((((

dan UAS baru saja selesai hari ini..

menjelang hari ke 3 Ramadhan 1436 H

Ilmu, ilmu adalah cahaya

sore itu seperti biasa. latihan bela diri kami lakukan. ini sudah pertemuan keempat. 3 pertemuan kemarin materinya sama, yaitu pukulan. jujur saja dari awal aku merasa sedikit jenuh dengan materi pertama. kenapa sih diulang-ulang terus? untuk ukuran seperti aku yang pernah mendapat materi serupa juga saat sekolah dulu, ini terasa membosankan, mungkin karena sudah pernah menerimanya. tapi aku juga sadar kalau belajar seperti ini apalagi beda jenis beladirinya ya pasti tetap harus dari awal belajar. walau merasa sudah tidak sabar dengan materi selanjutnya tapi tetap pr-pr dari materi pertama aku coba kerjakan. walau tidak seluruhnya juga.hehe :p

dan sore ini menjawab rasa penasaranku. sang guru langsung mengajarkan beberapa materi tendangan. wah, ditambah lagi pekan kemarin aku tidak ikut latihan, jadi ditambah juga dengan jenis pukulan yang kemarin dipelajari. rasanya terlalu banyak yang masuk.

huhu disitu saya merasa sedih. mengapa harus cepat bosan padahal pasti ada saatnya kita dapatkan yang lebih. dan saat kita mendapat yang lebih itu, kita harus siap. siap menerima dan menguasainya. that’s the point.

sore itu juga, ada seseorang senior yang memberi tausiyah. tentang ilmu. ini kisah nyata.

ada seorang murid yang berguru kepada seseorang. orang yang ingin dijadikan guru oleh murid tersebut bertanya kepadanya, “apa kau yakin akan berguru denganku?”

murid menjawab, “ya, tentu saja”

guru berkata lagi, ” kalau begitu kau harus sabar”.

“baik”, jawab si murid.

akhirnya di tahun pertama sang murid disuruh oleh gurunya untuk ngarit rumput (mencari rumput untuk pakan ternak, semacam itu). Murid tidak diberi apa-apa oleh gurunya, dan tidak disuruh apa-apa lagi selain ngarit rumput itu. selama setahun si murid melaksanakan peritah gurunya dengan sabar, walau kadang diselingi dengan protes dan pertanyaan heran pada gurunya. tapi walaupun begitu pekerjaan ngarit rumput tetap ia jalani.

lalu setelah setahun berlalu, tiba-tiba oleh sang guru, murid ini disuruh untuk mengisi kajian di suatu pesantren. sang murid terheran-heran, bagaimana ia bisa mengerjakan hal itu sementara selama ini ia tidak pernah mendapat transfer ilmu apapun dari sang guru. ia hanya disuruh mengarit rumput bukan? namun, setelah dicoba ternyata dia bisa. Bahkan dia bisa melakukan semua yang gurunya dapat lakukan.

hebat bukan? itulah akibat keridhoan sang empunya ilmu, keridhoan sang guru. ketika seorang guru telah ridho pada muridnya maka murid akan dapat ilmu yang dimiliki gurunya dengan mudah. ini kisah nyata loh.

dapat dipahami, inilah maksud dari ilmu itu adalah cahaya. iya akan mudah menerangi hati-hati yang bersih. saat sang murid ikhlas mengikuti perintah gurunya, untuk menghormati beliau maka cahaya-cahay tersebut akan tembus ke dalam dirinya dengan mudah.

allahumma iftah ‘alaina hikmatan … aamiinn

pelajaran dari perjalanan

Selayaknya karunia Allah, perjalanan haruslah dinikmati. Karena dari perjalanan bisa kita dapatkan pelajaran. Dari perjalanan bisa kita dapatkan pengalaman dan bertambahlah rasa syukur.

 Alhamdulillah akhirnya aku bisa jalan-jalan setelah sekian lama ga pernah :D. Tanggal 12 Januari kemarin aku pergi ke Rembang, sebuah kabupaten yang ada di jawa Tengah. Pergi kesana bukannya tanpa tujuan dan hanya sekadar jalan-jalan. Tapi ada tugas unutk mengunjungi rumah seseorang. Eh dua orang deh.hehe

Berangkat jam 1 siang. Naik bus yang sebelumnya belum pernah kunaiki. Baru tau kalau ada bus yang kaya gini, lengkap ada selimutnya juga. (maklum.. belum pernah pergi jauh. Sejauh-jauhnya juga masih pakai kendaraan keluarga.hehe). Awalnya aku ga siap, membayangkan perjalanan ini akan lebih lama dari yang biasa aku tempuh. Biasanya aku paling lama menempuh perjalanan dengan kendaraan umum itu 8 jam dan ini kurang lebih akan 14 jam –“ hampir dua kali lipatnya. Huft. Tapii kalau tau kendaraanya lengkap fasilitasnya gini sih insyaallah kuat kayanya.hehe

Dan benar.. sampai ke Rembang jam setengah 4 pagi. Oh iya.. aku pergi ke rembang bersama satu orang teman (kaka tingkat tepatnya). Sesampainya di Rembang, kami ikut bernaung (ceileh bahasanya) di rumah adik tingkatnya temanku. Dia asli orang Rembang, mudik bareng gitu sama kita. Kami ikut sholat shubuh disana, sambil menunggu hari terang. Karena setelah itu kami akan beraksi.haha

Nah, kini hari sudah terang.. kami memulai petualangan kami di Kota Rembang ini. Mencari alamat kedua orang yang akan kami kunjungi.

~~~~~~~~

Ada banyak pelajaran yang dapat kuambil dari kota ini. Aku jadi tau kota di Jawa itu seperti apa. Masjid-masjidnya kental dengan arsitektur budaya Jawa. Masyarakatnya sederhana. Disini jarang ditemui angkutan umum, bahkan jalanan pun tidak terlalu ramai. Setidaknya di tempat-tempat yang ku temui begitulah keadaannya.hhe

Ternyata tugas kami selesai tepat jam 3 sore. Kami memutuskan untuk segera pulang. Awalnya kami ingin jalan-jalan dulu, menyicipi makanan khas daerah tersebut tapi hmm waktunya terbatas, sayang sekali. Akhirnya saat itu juga kami langsung memesan tiket bus. Sayangnya karena kami memesannya mendadak, tiket bus yang langsung ke Bogor tidak tersedia. Jadi, Kami pesan tiket bus ke Jakarta.

Selama perjalanan menuju Jakarta banyak pelajaran yang bisa diambil seperti contoh di bawah ini

Keadaan jalanan yang tidak tertib dan menyebabkan macet. Lihatlah mobil-mobil bergerak berlawanan arah dan tidak mau mengalah. Saling terobos. Begitu juga kendaraan bermotor. Masyaallah miris lihatnya. Aku tau pasti mereka punya kepentingan. Banyak juga yang terburu-buru. Tapi bukan begitu caranya jika ingin cepat. Seharusnya mereka bisa lebih mengikuti tata tertib walaupun memang harus bergiliran dan ada saatnya giliran kita untuk menunggu. Karena dengan begitu semuanya akan lebih baik. Sehingga fenomena seperti yang tampak di atas tidak akan terjadi.

Mungkin ini faktor petugas lalu lintas juga yang tidak ada. Entahlah saat itu aku tidak melihat petugas yang mengatur kekacauan itu. Tapi seharusnya yaa pengendara tahu aturan lah?? Mungkin faktor kepentingan pribadi menjadi salah satu penyebabnya.

Yang perlu diperhatikan lagi gambar di bawah ini. Lihat! Disela kemacetan itu ada seorang Bapak Tua yang membawa sepeda dengan satu karung besar di tiap sisi sepedanya. Ia terlihat berusaha menyebrangi kemacetan itu. Nampak kekhawatiran dan kebingungan di wajahnya. Bagaimana caranya ia bisa menyebrang disela-sela kendaraan besar lain dengan bawaan yang ia bawa itu. Tak lama kemudian terlihat juga seorang penjual sayur di gerobak yang ingin menyebrang juga. Mereka terlibat sedikit percakapan. Sang penjual sayur ini terlihat sedikit lebih muda. Ia langsung mengambi jalan lurus dan berbeda arah dengan Bapak tua itu. Nampaklah kebingungan kembali di wajahnya. Ia tetap bertahan dia arah yang ingin ia lalui. Sementara penjual sayur sudah tidak nampak lagi. Akhirnya terlihat ia pun membawa spedanya ke arah yang sama yang dilalui penjual sayur. Dari dalam bus aku mengamati hingga sosoknya hilang. Hmm semoga ia bisa sampai tujuan dengan selamat. Rasanya kasihan melihat seorang baapak tua pembawa sepeda dengan bebannya yang cukup besar berusaha melewati kemacetan yang dominan kendaraan besar >_< ya robb…

Hmmphh sedih jadinya. Akupun belum bisa mengatur lalu lintas seperti bapak Polantas. Seandainya aku bisa hmm mungkin aku sudah turun (?) hehehe tapi ga mungkin didengar, aku kan bukan siapa-siapa.

Setelah terhenti sekian lama barulah bus yang kutumpangi bisa melaju kembali. hmp tapi aku tak tidak tau bagaimana kemacetan itu bisa selesai. Aku tidak melihat bapak polantas, atau mungkin memang tidak terlihat olehku. Sepertinya memang ada yang mengatur tapi tak kelihatan olehku.

Semoga kekacauan seperti itu tidak terjadi lagi. Semoga kesadaran tiap individu dalam berkendara maupun sang petugas lalu lintas dapat lebih tinggi dan lebih sabar.

singkat cerita… aku sampai di tempat tinggal keduaku. alhamdulillah.

huft.. dan aku harus segera bersiap untuk perjalanan yang mneyenangkan besok pagi karena aku akan pulang 🙂

pentingnya membuat resume sebelum kuliah

Tulisan ini muncul saat aku merasakannya sendiri. ya, memang betapa pentingnya membuat rangkuman materi terlebih dahulu sebelum kuliah. Saat-saat kuliah itu adalah saat-saat dimana kita benar-benar menggunakan pikiran, telinga, dan kemampuan tangan untuk menulis dengan cepat (setidaknya itulah yang kurasa). saat dosen menjelaskan hendaknya itu tidak dipakai untuk membaca buku diktat/referensi kuliah tersebut. Buku diktat/referensi seharusnya dibaca sebelum kuliah dimulai agar saat kita kuliah, kita hanya menyimak penyampaian dosen dan mencatat apa yang dikatakan dosen yang tidak ada di buku diktat/refernsi itu. Apa yang disampaikan dosen seringkali tidak ada di buku dan itulah yang seringkali keluar di ujian. Jadi baiknya sebelum kuliah kita sudah membuat semacam resume/mind map agar memudahkan kita memahami materi/bacaan secara keseluruhan. baru ketika kuliah kita pahami lebih dalam dan menambahkan penjelasan-penjelasan yang lebih detail dalam catatan kita itu.

Kalau kita datang kuliah dan kita belum membuat catatan ringkas materi yang akan dikuliahkan (berarti kita juga belum membaca materinya dong —”) bisa dipastikan sebagian besar dari kita akan sulit untuk memahami apa yang disampaikan dosen.. atau agak kewalahan. ya gak? coba deh.. Berbeda rasanya kalau kita sudah membaca dan mebuat mind map materinya sebelum kuliah, dengan begitu berarti kita lebih siap untuk menerima materi kuliah. Hal ini dapat membantu kita lebih mengingat materi tersebut. Juga dapat membantu saat waktu ujian datang, kita tinggal membuka catatan mind map kemarin untuk membantu mengingat materi yang telah disampaikan..:) betul?

Ini kulakukan karena kutau ada yang telah berhasil dengan cara ini.. dan dia cukup hebat untuk dijadikan acuan..:D

mind map

di atas adalah contoh mind map.. asyik kan kalau catatan kita seperti itu? lebih menarik unutk dibaca

Kembali ke Rantau

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di tempat perjuanganku, Bogor. Walau harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 13 jam untuk sampai ke kontrakan, yang biasanya hanya perlu waktu 9 jam kurang. Itu juga jalannya memutar lewat jalur selatan, kalau lewat pantura pasti lebih lama lagi -_- Subhanallah J luar biasa sekali yaa semangat para pemudik dan pejuang arus balik di Indonesia ini. Entah mungkin dengan berbagai perasaan yang bersarang di hati, mereka tetap kembali ke perantauannya dan meninggalkan kampung halaman. Walaupun sebenarnya mereka hanya sebentar di kampung halaman. Semoga jerih payah mereka dapat terbalas dengan yang lebih baik.

Aku harus lebih awal datang ke Bogor karena ada tanggungjawab yang harus dilakukan. Aku ikut kepanitiaan. Panitia MPKMB. Semacam ospek kalau di univ lain. Tapi kalau di IPB namanya itu MPKMB. Dan itu adalah acara yang seruu bangeeett!! Malah rasanya aku ga mau jadi panitia. Pengennya jadi peserta saja.hehe

            Sampai ke rumah ke-2 ku (baca:kontrakan) sekitar pukul 22.00. hmm rasanya mimpi, kini aku sudah kembali ke bogor. Jauh dari orangtua. Hmpp kayanya harus adapatasi lagi dengan kesendirian ini. Agak beda juga sih. Dulu walaupun datang lebih awal dari yang lain, agak terhibur karena masih di asrama. Pasti ada orang aja sih di asrama, dan kalau mau main ke kamar teman itu dekat. Tidak seperti sekarang, kalau datang pertama ya bener bener sendiri. Ahhh kenapa jadi meratapi gini sih. Masih syukur alhamdulillah bisa kuliah. Bisa ikut kepanitiaan jadi nambah pengalaman. Lagipula kalau ga ikut kepanitiaan, di rumah mau ngapain lama – lama? Kecuali kalau saya atau anda punya keperluan lain seperti punya usaha atau bisnis sendiri sehingga waktu liburan dapat digunakan untuk mengembangkan usaha tersebut (ssstt itulah yang sebenarnya lebih kuinginkan di kesempatan yang akan datang J ).

Hahhh… perjuangan sudah pasti tak seindah menikmati hasilnya. Perlu kesabaran dan keyakinan bahwa nanti pasti akan terasa manisnya. Perlu juga diingat bahwa di luar sana banyak orang yang juga sedang berjuang sepertimu. Menahan kepedihan jauh dari keluarga, jauh dari orang-orang yang dicintai. Bahkan banyak dari mereka yang merasakan pedih lebih dari yang kurasakan.

Insyaallah semua ini tak akan sia-sia. Ikhlas dan bersungguh-sungguhlah Aih! Ayoo J hihihi