IPB Bersholawat

29 Mei 2016

Alhamdulillah .. IPB bersholawat. Baru kali ini aku merasakan yang seperti ini di sini, di kampus, tanah rantau. Menemukan apa yang biasanya kutemukan dulu di rumah, akhirnya kutemukan juga di tanah rantau ini. Mulai pukul 7 pagi, saat beranjak mendekati lokasi. Yaitu Gedung Grha Widya Wisuda (GWW), gedung yang paling bersejarah di IPB karena disanalah tempat awal dan akhirnya seorang mahasiswa secara resmi masuk dan keluar dari kampus ini. Pemandangan yang sejuk di mata dan juga mendamaikan hati telah menghiasi. Orang-orang berpeci dan bersarung hilir mudik. Ditambah lagi kemeja koko putih. Duh, indahnya, tentramnya. Wajah-wajah ramah khas masyarakat desa yang memang adatnya ramah membuat hati semakin tentram. Ya Allah.. akhirnya inilah saatnya.

Telah disampaikan juga oleh Habib Mahdi bin Hamzah Assegaf (yang memimpin sholawat pada acara ini, dari MT Syababul Kheir, Bogor) bahwa inilah saatnya kita bangkit, kaum ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan kebiasaan-kebiasaan positifnya. Tak perlu malu menunjukkan bahwa inilah saya, yang suka sholawatan, yang suka tahlilan, suka ziarah kubur. Bahwa Indonesia dulu juga merdeka didominasi oleh gerakan para santrinya yang bersahaja. Istiqomahkan mengamalkan sholawat, sebagai bukti cinta Rasulullah s.a.w. cinta kepada rasulullah S.A.W mencerminkan keimanan kita. Maka tidak alasan bagi kita untuk bersembunyi. Tidak alasan bagi kita untuk membiarkan diri kita terus diam dan hanya menyimpan kebiasaan-kebiasan positif yang indah ini hanya untuk kalangan kita sendiri. Saatnya kita menyentuh ranah kampus kita tercinta. Sentuh dengan lembut, tunjukkan bahwa yang namanya sholawatan tidak hanya ada di kampung masing-masing tapi juga ada di tanah rantau sini, bahwa ada juga sholawatan di kampus kita tercinta ini. Saatnya kita tunjukkan pada yang lain bahwa ada juga tradisi-tradisi seperti ini di kalangan mahasiswa. Bagi yang merindu, bisa ikut bergabung, terbuka untuk semua.

Lantunan sholawat bergema di penjuru gedung GWW. Menjadi bukti bahwa kami semua yang berkumpul disini mengharapkan ridho Allah, mengharapkan syafa’at dari Rasulullah.

Tidak ada waktu yang terbuang percuma dalam acara ini insyaallah. Memang acara resmi dimulai sekitar pukul 9. Namun aku merasa, sejak jam 7 acara ini sudah mulai. Karena saat pertama hadir sudah diperdengarkan lantunan sholawat. Mengetuk hati dan mendorong lisan agar bergerak mengucap sholawat juga. Tak berselang lama sekitar pukul 07.30, disambut langsung oleh tim hadrah KMNU IPB. Ini menurut saya adalah penyambutan langsung bagi para pendatang, Sambutan spesial bagi mereka yang datang lebih awal. Karena hanya yang datang lebih awal yang dapat menikmatinya, setelah itu giliran tim hadrah dari habib nya 😀 .

Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Waktu menunggu para pengisi acara hadir, diisi dengan sholawat. Sungguh acara yang penuh berkah. Insyaallah.

Terima kasih banyak KMNU IPB telah menyelenggarakan acara ini. semoga amalan kalian dibalas dengan sebaik-baik balasan oleh Allah. karena ada kalian yang mau bergerak, terlaksanalah acara ini. semua diawali dengan kemauan. bagaimana bisa mau bergerak jika tidak ada rasa suka, bahkan lebih dari itu kalian punya cinta. cinta yang besar kepada Rasulullah S..A.W hingga bisa mendorong kalian bergerak untuk mewujudkan ini semua.

 

Liburan Ter-Magang.

bagaimana tidak ? Liburan semester 5 ini penuh dengan magang. dua pekan pertama magang di Balitri (balai penelitian tanaman industri dan penyegar) di Sukabumi (likeearth aku biasa menyebutnya). lalu sepekan berikutnya aku harus kembali ke Bogor, tepatnya tanggal 31 Januari 2016, karena harus magang di PKPU. Magang ini wajib aku ikuti. lagipula memang jelas akan banya pengalaman berharga yng aku dapat jika magang disana. Tapi akhirnya aku sempatkan pulang juga ke kampung halaman walau hanya 1 hari 1 malam 😦 sedihnya. Tapi bersyukur masih bisa pulang. Alhamdulillah. setidaknya bisa bertemu mereka orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku tulus untuk memompa semangat menjalani hari-hari penuh perjuangan di tanah rantau.

Balitri

pagi-pagi sekali ba’da sholat subuh aku pergi di antar teman seasrama untuk mengejar mobil ke Likeearth sepagi mungkin (Terimakasih banyak ka opii, aku jadi sampai di waktu yang tepat). tak kusangka ternyata mobil Colt sukabumi itu meluncur sekencang-kencangnya layaknya mobil elf di kampungku. mobil semacam itu mereka sebut mobil setan, cepat bangett -__- emang kaya gitu katanya mobil sukabumi. aku turun di pasar Parungkuda. dilanjut naik angkot merah ke Balitri.

Hari pertama langusng ke kebun. Kebun Balitri menjadi tempat utama orang-orang agronomi berada. langsung bergelut di lapangan dengan tanaman. mulai dari pembibitan hingga panen. komoditas utama balitri adalah kopi, kakao, karet dan teh. Tanaman teh tidak di kebun balitri,tapi  di gunung putri. Ada juga Kemiri sunan di kebun balitri. dimanfaatkan minyaknya untuk bio industri. Bedanya dengan kemiri yang bias untuk masak adalah dari daunnya.

selain di kebun kami juga mengunjungi perpustakaan balitri yang ada di wilayah kantor. di sana aku menemukan beberapa referensi menarik terkait tanaman obat, komoditas yang aku cintai. senang rasanya, walaupun cetakannya telah puluhan tahun silam. tapi dengan begitu aku jadi tau ke mana seharusnya aku pergi jika ingin tau lebih banyak tentang tanaman obat, Balitro. tidak hanya ke perpus dan kebun, atas izin beberapa orang akhirnya kami bisa juga ke laboratoriumnya. tidak jauh berbeda dengan yang biasa dilakukan di kampus.

selama di balitri aku mengenal orang – orang hebat dan baik ini. mereka adalah Pak Bambang, Bu Ama, bapak penjaga perpus,Pak Dibyo dan juga ibu kantin yang telah berbaik hati berbagi sebagian rumahnya selama sepekan dengan kami. Pak Bambang adalah orang yang membimbing kami selama di lapangan. Beliau memantau dan menanyakan kabar dan kemajuan kami selama di balitri. Sedangkan Bu Ama, adalah salah satu peneliti di Balitri dari jurusan HPT yang berbaik hati menerima kami di rumahnya selama sepekan. beliau punya seorang anak perempuan lucu. waktu-waktu kami selama di rumahnya terasa begitu singkat saking nyamannya seperti di rumah sendiri. Pak Dibyon adalah kepala kebun balitri. Jam terbangnya tinggi. seharusnmya kami dibawah bimbingan beliau selama magang namun karena sibuk dan harus pergi-pergi ke luar kota, beliau melimpahkan tugasnya kepada Pak Bambang. Seminggu di rumah ibu kantin, membuatku paham bagaimana jenuhnya orang yang bekerja, selama 6 hari dalam sepekan harus berkutat dengan hal yang sama. akhirnya si ibu kantin setiap weekend selalu menghibur dirinya dengan karaoke di rumah sendiri. Menarik 🙂 .

Pulang

hari Jum’at adalah hari terakhir magang. aku sudah menyiapkan barangku sejak tadi malam. siang nya sepulang magang aku langsung meluncur untuk pulang. tak mau membiarkan waktu sedetikpun menghambatku. sampai di rumah pukul setengah sembilan malam. di belokan rumahku sudah menunggu 2 orang malaikatku, Mamah dan bibi. senangnya bisa melihat wajah mereka. Membuat aku semakin merasa bahwa waktuku pulang ini tidaklah salah. aku punya waktu sehari semalam dengan mereka semua. memanfaatkan sebaik-baiknya karena hari Ahad aku harus berangkat ke Kota Hujan.

PKPU

sampai di Asrama pukul setengah 3 sore. jalanan macet parah d Kota. sampai-sampai angkot 03 yang kosong sulit sekali didapat. Biasanya turun dari bis, selalu bisa langsung duduk di angkot. tapi kali ini tidak. malamnya aku bersiap ke Kantor Pusat PKPU Jakarta, beruntung aku tak perlu packing lagi karena benda-benda yang dibutuhkan sama saat aku packing untung magang ke likeearth juga. senin pagi kami berangkat ke Jakarta.

Ada cerita menarik saat aku di KRL. sebelumnya, malam hari itu aku terlibat percakapan panjang dengan Kak Shafa. salah satunya aku menanyakan mengenai buku karya Buya HAMKA berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”. Aku menanyakan seberapa tebal bukunya, apakah ia punya.  Aku sangat penasaran ingin segera membaca. Katanya tidak terlalu tebal, bisa selesai dalam sehari, mungkin kurang. namun untuk benar-benar paham butuh lebih dari sekali membaca. Buya HAMKA adalah sastrawan hebat. membaca kata-katanya membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk memahaminya. Lalu di KRL saat telah melewati beberapa stasiun atau baru stasiun yang kedua, ah aku lupa. yang jelas, saat itu KRL masih lengang, walau aku harus berdiri. Ada seorang wanita cantik, rambutnya lurus terurai panjang, kacamata ditempelkan di atas kepalanya, memakai Blazer coklat. Namun yang lebih menarik perhatianku adalah Buku yang dipegangnya sejak awal berlari mengejar kereta. Aku berusaha membaca judulnya, agak sulit karena ia melipat bukunya sehingga covernya tidak kelihatan. Saat ia sedang merapihkan posisinya, akhirnya aku bisa membaca Judul buku itu di covernya, “Tenggelamnya kapal Van Der Wijk” tertulis di bagian depan buku itu. Aku merasa senang sekali akhirnya bisa segera mengetahui dengan tepat jawaban atas pertanyaanku semalam pada ka Shafa. Aku bisa melihat sendiri ukuran buku itu. ternyata tidak tebal. aku yakin bisa menyelesaikannya kurang dari 6 jam.  Semakin penasaran aku ingin membaca. Aku senang, semalam aku begitu penasaran dan paginya aku temukan jawaban. walau harus didera penasaran lagi karena belum bisa menyentuh dan membacanya segera. Tak apa. Saat kereta mulai melaju, wanita itu melanjutkan bacaannya.

Sampai di PKPU, aku dan Nida ditempatkan di divisi Gizi. Qadarullah, tepat sekali penempatan kami dengan pekerjaan yang sedang tersedia di divisi ini. aku jurusan Agronomi dan hortikultura sementara Nida jurusan ilmu keluarga dan Konsumen. Divisi Gizi sedang membuat modul Kebun Gizi Keluarga. Dan memang sudah ada sejak awal program untuk ibu hamil, menyusui, juga balita, cocok sekali dengan Nida. Hari pertama kami langsung punya tugas. Di divisi gizi ini semuanya perempuan. mulai dari manajer, supervisor hingga stafnya. pakaian mereka rapi, menjulur menutup dada dan memakai rok. Cool !

Magang di PKPU selama sepekan, mebuat aku mengerti dan benar-benar paham bagaimana pekerjaan orang-orang kantoran. seolah tidak capek namun sebenarnya sangat mengancam kesadaran (baca:stress). tidak banyak namun penentu keberlanjutan. setiap hari kerja, berangkat pagi pulang sore yang dilihat adalah laptop, PC. wajar jika mereka bosan dan banyak yang berkacamata. Selain itu, aku juga jadi tahu bagaimana para atasan rapat, merumuskan tujuan mereka agar terwujud lancar tanpa hambatan. benar-benar keren. Bersyukur sekali aku bisa menjadi bagian dari PKPU, walau mungkin menjadi bagian terluarnya.

Banyak sekali pelajaran yang aku dapat dari magang-magang ini. Banyak, banyak, banyak banget. luar biasa liburan semester ini.

alhamdulillah. terimakasih ya Allah.

harapan mereka, Guru kita

ada banyak orang yang menginginkan kebaikan bagi orang lain. beberapa di antaranya adalah mereka, guru, kyai, dosen.. atau apalah kita biasa menyebutnya. mereka menginginkan kebaikan. tapi untuk selanjutnya akan digunakan kata guru yang sepertinya lebih familiar di telinga kita, juga siswa. alasannya sama.

hari ini aku melihat harapan mereka begitu besar pada sang penimba ilmu di hadapannya. tapi aku juga melihat rasa takut yang masih banyak bersarang dari para siswanya. hmm entah karena faktor apa. banyak sepertinya. mungkin takut salah, lupa-lupa ingat sehingga lebih baik diam, ragu, takut ditanya lebih lanjut, ataupun gengsi, malu. hmm

walaupun sang guru telah berujar bahwa tidak ada yang perlu ditakuti. benar dan salah itu wajar karena memang masih belajar. namun tetap saja kelas menetap dalam kesunyian suara para siswa. sang guru seolah bercakap sendiri. termasuk aku juga di dalamnya, lidah tetap kelu. sepertinya banyak hal yang menghalangi lisan ini untuk berucap.

rasanya sedih jika seperti ini terus padahal harapan mereka tertumpu pada kita. rasanya ingin memberikan hal yang maksimal, ingin menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak salah. apa yang mereka lakukan itu sudah benar untuk terus mengajari kita. ingin menunjukkan bahwa masih ada orang disini wahai guru. engkau tak sendiri. ada kami yang mendengarkan dan memperhatikan.

walaupun ada juga sebagian guru yang benar-benar menciutkan mental siswanya hingga benar-benar kelas seperti di hutan. sunyi. tak berani menanggapi apapun yang sang guru sampaikan. ada banyak sebab, misal saat siswa sudah berani bicara entah itu menanggapi atau bertanya selalu ada sikap sang guru yang membuat siswa itu merasa dipermalukan hingga untuk kesempatan selanjutnya ia enggan bicara lagi. padahal hanya dengan bertanya dan menanggapi sang guru di kelas, cahaya ilmu itu akan datang lebih jelas (setidaknya itulah cara termudah bagi kita untuk mendapat ilmu, karena kita langsung bercakap-cakap dengan yang sudah menguasainya sehingga jawaban terasa lebih pas). hingga sang siswa enggan lagi bertanya, ia merasa takut pertanyaannya itu adalah hal yang konyol, hal yang tidak perlu ditanyakan, hal yang mungkin sudah umum diketahui. dan juga enggan menanggapi karena takut tidak menjawab apa yang diinginkan oleh sang guru.

banyak hal memang. banyak halangan dan rintangan dalam menimba ilmu. (kali ini bicara dalam konteks kesiswaan). seperti yang sudah disebutkan diatas yang kebanyakan bersumber dari diri kita sendiri yang sifatnya bisa kita kendalikan. perasaan perasaan itu adalah hal yang ada pada hati dan pikiran kita, jika kita bisa menutupinya dengan keyakinan bahwa “ilmu” itu lebih penting daripada pandangan orang lain terhadap kita tentu perasaan itu bukan lagi jadi penghalang bagi kita untuk mencariu tahu ilmu lebih jauh. tidak perlu pedulikan pandangan orang lain, percaya diri saja. husnuzhon bahwa sang Guru tak akan mempermalukanmu karena ya dia adalah gurumu. husnuzhon bahwa teman-temanmu tak akan menertawakanmu karena mereka adalah temanmu dna kamu adalah teman mereka. juga husnuzhon bahwa sekecil appaunh perbuatan pasti ada balasannya. siapa tahu pertanyaanmu itu akan membuat pencerahan bagi siswa-siswa lainnya.:)

begitulah. dengan kita berhasil mengalahkan perasaan-perasaan itu. tentu akan lebih mendamaikan mereka para guru dan memupuk harapan mereka juga menyuburkan semnagat mereka untuk lebih giat lagi menimba ilmu untuk diabgikan kembali apda murid-muridnya yang datang silih berganti setiap tahun.

#salamdalamrintikhujanyangturun

#semogamanfaat

hope-21

Bukti CintaNya

hari ini aku kembali direngkuhNya. dengan kesadaran yang seharusnya kupahami sepenuhnya.

sudah beberapa pekan ini hujan tidak kunjung turun. lahan mulai kering. air mulai menipis. udara Bogor yang memang panas terasa semakin panas.

hingga akhirnya pada hari ini, setelah sholat Jum’at  masyarakat Bogor mengadakan sholat istisqa bersama di lapangan sempur, yang biasanya tiap ahad pagi ramai dengan banyak orang yang pergi menikmati Car Free Day .

sayang sekali aku belum bisa ikut bergabung karena pada waktu yang sama juga ada jihad ilmy di kampus 🙂 (read:UTS). selesai ujian kira-kira 10 – 15 menitan setelah ashar. suasana sudah mendung. angin semilir yang dingin menyambut otak-otak panas mahasiswa saat keluar ruang ujian. langsung menuju musholla, adzan ashar telah berkumandang saat kami masih di ruangan. Saat sholat, hujan turun, semakin deras.

masyaallah. setelah sholat aku ingat. bahwa baru siang tadi warga Bogor melaksanakan sholat istisqa bersama. dan sore ini sang pemilik hujan telah menjawabnya. Hujan turun sangat deras, disertai angin kencang. Bahkan beberapa pohon besar tumbang dan menimpa apa yang ada di sekitarnya. Entah itu jalanan, warung kecil, rumah dan lain sebagainya.

Bukti cintaNya turun dengan jelas. Allah tunjukan kuasanya lebih jelas lagi. sangat jelas seharusnya. apalagi bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

masyaallah.. semoga limpahan syukur tetap terucap dari lisan kami, timbul dari hati dan kasih sayangMu mematri dalam sanubari.

pertemuan dengan Ust felix Siauw

Bersyukur sekali kepada Allah.. yang telah mengizinanku menepati janji yang menyenangkan, janji kepada teman bahwa aku akan ikut acara yang dia selenggarakan kalau ustad felix datang. Bertemu dengan orang shalih selalu membangkitkan semangat yang tertidur. Membangunkan ruh pemuda yang bersemayam dalam diriku. Jadi ingat nasihatnya sayyidina Ali bin Abi Thalib, obat hati ada 5 perkaranya dan yang ketiga adalah berkumpul dengan orang shalih. Memang terasa mengapa kita harus bertemu dan berkumpul dengan orang-orang shalih saat kita sedang lemah, sedang jauh. Karena dengan bertemu mereka, kita akan lebih terpacu semangatnya untuk melakukan hal yang lebih.

Jadi sempat terlintas, apakah sosok Felix Siauw ini adalah salah satu Tentara yang telah Allah siapkan untuk melawan kezaliman di zaman sekarang? Sempat terpikir seperti kisah Badiuzzaman Said Nursi. Sang keajaiban pada zamannya. Mungkin iya. Iya hebat. Dalam pandanganku untuk di zaman sekarang sosok seperti itulah yang memang perlu muncul sebagai sosok pembangkit semangat pemuda Islam (tapi tentu tidak hanya Ust Felix Siauw saja, tapi juga Ust Salim A Fillah, kang Abik, Asma Nadia, dll).

Ustad felix Siauw yang merupakan alumni IPB juga, masuk Islam tahun 2002. Awalnya sekos dengan rekannya yang muslim. Akhirnya ia buka-buka buku milik temannya yang muslim dan terbuka bab yang membahas sesuatu hal yang membuat ia keheranan. Ko bisa ya ada agama yang membahas masalah kehidupan manusia yang begitu spesifik. Akhirnya ia mieminta agar temannya itu menjelaskan namun temannya tidak bisa menjelaskan karena belum mengaji sampai sana. Akhirnya ustad Felix siauw dibawa ke ustad Fatih Karim yang selanjutnya membawa Felix siauw menjadi lebih tercerahkan dengan Islam.

Luar biasa hari ini. Walaupun awalnya bete karena paginya harus menunggu hal yang lama hingga ga bisa sesuai estimasi pada awalnya. Tapi ya memang begitu karena harus bersama ya sudah memang harus ada yang dikorbankan. Aku masih bersyukur sekali masih aku duluan yang sampai dan dapat tempat duduk nyaman sebelum ustad Felix nya maju ke panggung. Fyuh itu cukup melegakan aku.

Terpuaskan lah dengan hadirnya beliau dan melihat semangatnya beliau. Jadi ingat buku buku karyanya yang bertebaran dan telah menginspirasi banyak orang. Jadi ingat juga bagaimana orang-orang yang membenci islam diluar Indonesia sana saat melihat Ustd Felix, mereka dengna berbagai upaya mencegahnya agar tidak bisa berdakwah di daerah mereka. Hmm aku yang mengetahui hal itu di belahan bumi yang lain, sakit sekali mendengarnya. Seandainya bisa aku ingin menyampaikan semangat kepada beliau. Tapi kurasa itu tidak perlu, dengan keimanan yang ada pada dirinya saja itu sudah cukup untuk membuat dia tetap tegap berdiri dan yakin melangkah dalam dakwah. Ia tidak memerlukan semangat atau belas kasihan dari orang lain. Dia juga pasti yakin bahwa Allah akan menolongnya.felix-siauw_2

SanLat di desa Kawan

beberapa hari kemarin aku ditawari oleh seorang teman yang bernama, Nida Fadlilah untuk ikut menjadi panitia sanlat di rumah temannya di sekitar Jambu Dua (yang sebenarnya itu temanku juga :D). setelah kupikir-pikir akhirnya aku ikut juga.

acara pesantren kilat itu ternyata mengundang Alvin dan adiknya Shabrina yang sering muncul di program Hafidz Indonesia.

pengalaman yang menarik.

Juli yang luar biasa.. berturut-turut peristiwa menarik dan penuh pembelajaran. tanggal  1,3,5 Juli 🙂

IMG_20150705_170154